Mengenal lebih dekat Sinode GKP Jabar
"Menjadi gereja yang bersaksi dalam kasih, bersekutu dalam iman, dan melayani dengan tanggung jawab untuk menghadirkan terang Kristus di tengah dunia."
Badan Pekerja Majelis Sinode GKP Jabar
Ketua Umum BPMS
Bid. Pengajaran
Bid. Persekutuan
Bid. Sosial
Bid. Penatalayan
Sekretaris Umum BPMS
Bendahara Umum BPMS
Gereja Kristen Protestan (GKP) JABAR memiliki akar sejarah yang kuat dimulai dari pelayanan Frederik Lodewijk Anthing (1820–1883), seorang hakim Belanda yang memiliki pendekatan kontekstual dalam penginjilan. Berbeda dengan lembaga zending Belanda lainnya, Anthing menghargai budaya lokal dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendidik pribumi agar mampu menginjil kepada sesama mereka sendiri.
Mulyadikrama Leonard, murid Anthing, menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi pekabar injil dan mendirikan jemaat di pekarangan rumahnya sendiri di Gunung Putri, Bogor pada 24 Agustus 1861. Setelah Anthing meninggal tahun 1883, Leonard meneruskan pelayanan dengan prinsip kemandirian, menolak campur tangan NZV (Nederlandsche Zendingsvereeniging) yang ingin mengambil alih jemaatnya.
Mas Kenan Leonard (1872-1951), putra Mulyadikrama, melanjutkan pelayanan di Jakarta. Dari pemberitaan injilnya berdirilah jemaat Karunia di Kramat yang pada 19 April 1931 resmi menjadi POMMADI (Persekutuan Orang-orang Masehi untuk Meluaskan Agama Masehi Injili di Hindia Belanda). POMMADI mendapat pengakuan hukum melalui SK Gubernur Jenderal No. 27 tanggal 10 Agustus 1937.
Tahun 1939 terjadi perpecahan ketika Pdt. Philipus Saiman mendirikan Gereja Pasundan di Tanah Tinggi dengan dukungan dana Dr. Van Doorn. Kenan Leonard menolak keras integrasi dengan NZV, berpegang pada prinsip: "Kita Kristen Sunda, bukan Kristen Belanda." POMMADI tetap memilih berdiri sendiri tanpa afiliasi zending manapun.
Periode 1942-1945 menjadi masa sulit ketika banyak jemaat dipindahkan sebagai romusha. Pdt. Jefta Leonard Mulyadikrama dipindahkan ke Serang untuk mengurusi romusha, sementara Kenan Leonard sakit-sakitan. Meskipun demikian, semangat jemaat tidak surut dan mereka tetap berjuang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.
Gereja mengalami beberapa perubahan nama: POMMADI (1937) → Gereja Masehi Injili POMMADI (1941) → terdaftar di Kementerian Agama RI (1951) → GKP Jabar (1989). Kongres-kongres penting dilaksanakan di Bogor (1966, 1975) untuk menyusun tata gereja dan struktur organisasi yang lebih baik.
Kini GKP JABAR telah berkembang menjadi 12 jemaat dan pos jemaat: POMMADI Jakarta (1931), POMMADI Bogor (1952), Maranatha Jonggol (1990), Oikoumene Cisarua (1971), Bahtera Hayat Depok (1990), Surya Permata Indah (2002), Sumber Kahirupan Kuningan (2000), serta beberapa bakal jemaat dan pos jemaat lainnya.