Tentang Kami

Mengenal lebih dekat Sinode GKP Jabar

Visi & Misi

Tujuan & Arah Pelayanan

Visi GKP Jabar

"Menjadi gereja yang bersaksi dalam kasih, bersekutu dalam iman, dan melayani dengan tanggung jawab untuk menghadirkan terang Kristus di tengah dunia."

Misi GKP Jabar

  • 1 Menata Tata Kelola Gereja yang Akuntabel dan Efisien
  • 2 Mengembangkan Persekutuan yang Hidup dan Dinamis
  • 3 Memperkuat Kesaksian dan Pelayanan Gereja di Tengah Masyarakat
  • 4 Mendorong Kemandirian Sumber Daya Pelayanan Gereja
  • 5 Menghadirkan Gereja Sebagai Terang di Tengah Dunia
Struktur Organisasi

Personalia BPMS

Badan Pekerja Majelis Sinode GKP Jabar

Pdt. Ranap Aritonang
KETUA UMUM

Pdt. Ranap Aritonang

Ketua Umum BPMS

Pdt. J.F. Sihite
KETUA I

Pdt. J.F. Sihite

Bid. Pengajaran

Pdt. Albertus Bogar
KETUA II

Pdt. Albertus Bogar

Bid. Persekutuan

Pdt. Johan Edward Tampubolon
KETUA III

Pdt. Johan Edward Tampubolon

Bid. Sosial

Pnt. Mario Nikolaus Siahaan
KETUA IV

Pnt. Mario Nikolaus Siahaan

Bid. Penatalayan

Pdt. Hendryanus Rodman
SEKRETARIS UMUM

Pdt. Hendryanus Rodman

Sekretaris Umum BPMS

Dkn. Sinarlinda Sinaga
BENDAHARA UMUM

Dkn. Sinarlinda Sinaga

Bendahara Umum BPMS

Sejarah

Perjalanan Iman Kami

Akar Sejarah: Penginjilan Pribumi di Batavia

Gereja Kristen Protestan (GKP) JABAR memiliki akar sejarah yang kuat dimulai dari pelayanan Frederik Lodewijk Anthing (1820–1883), seorang hakim Belanda yang memiliki pendekatan kontekstual dalam penginjilan. Berbeda dengan lembaga zending Belanda lainnya, Anthing menghargai budaya lokal dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendidik pribumi agar mampu menginjil kepada sesama mereka sendiri.

Leonard Mulyadikrama: Pekabar Injil Pertama Indonesia

Mulyadikrama Leonard, murid Anthing, menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi pekabar injil dan mendirikan jemaat di pekarangan rumahnya sendiri di Gunung Putri, Bogor pada 24 Agustus 1861. Setelah Anthing meninggal tahun 1883, Leonard meneruskan pelayanan dengan prinsip kemandirian, menolak campur tangan NZV (Nederlandsche Zendingsvereeniging) yang ingin mengambil alih jemaatnya.

Mas Kenan Leonard dan Lahirnya POMMADI

Mas Kenan Leonard (1872-1951), putra Mulyadikrama, melanjutkan pelayanan di Jakarta. Dari pemberitaan injilnya berdirilah jemaat Karunia di Kramat yang pada 19 April 1931 resmi menjadi POMMADI (Persekutuan Orang-orang Masehi untuk Meluaskan Agama Masehi Injili di Hindia Belanda). POMMADI mendapat pengakuan hukum melalui SK Gubernur Jenderal No. 27 tanggal 10 Agustus 1937.

Konflik dan Perpecahan (1939)

Tahun 1939 terjadi perpecahan ketika Pdt. Philipus Saiman mendirikan Gereja Pasundan di Tanah Tinggi dengan dukungan dana Dr. Van Doorn. Kenan Leonard menolak keras integrasi dengan NZV, berpegang pada prinsip: "Kita Kristen Sunda, bukan Kristen Belanda." POMMADI tetap memilih berdiri sendiri tanpa afiliasi zending manapun.

Masa Pendudukan Jepang dan Kemerdekaan

Periode 1942-1945 menjadi masa sulit ketika banyak jemaat dipindahkan sebagai romusha. Pdt. Jefta Leonard Mulyadikrama dipindahkan ke Serang untuk mengurusi romusha, sementara Kenan Leonard sakit-sakitan. Meskipun demikian, semangat jemaat tidak surut dan mereka tetap berjuang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.

Evolusi Nama dan Struktur Organisasi

Gereja mengalami beberapa perubahan nama: POMMADI (1937) → Gereja Masehi Injili POMMADI (1941) → terdaftar di Kementerian Agama RI (1951) → GKP Jabar (1989). Kongres-kongres penting dilaksanakan di Bogor (1966, 1975) untuk menyusun tata gereja dan struktur organisasi yang lebih baik.

Perkembangan Jemaat

Kini GKP JABAR telah berkembang menjadi 12 jemaat dan pos jemaat: POMMADI Jakarta (1931), POMMADI Bogor (1952), Maranatha Jonggol (1990), Oikoumene Cisarua (1971), Bahtera Hayat Depok (1990), Surya Permata Indah (2002), Sumber Kahirupan Kuningan (2000), serta beberapa bakal jemaat dan pos jemaat lainnya.